Hijrah Pertama
Seorang Aisyah Nur Asma, Tidak akan mungkin Pacaran. Mau dibayar berapa juga tidak...
Sebelum Hijrah, aku memang sulit untuk ikut - ikutan teman - temanku soal pergaulan seenaknya dengan lawan jenis. Kata teman - teman sih.. "Sok alim nie si Asma. Ribet bawa dia kemana - mana. nanya mulu'... gelap dikit nanya, tempat baru dikit nanya..." protes salah satu teman.. Begitulah jadinya, ada yang bilang gak laku - laku, sok jual mahal, sok alim,,, pokoknya itulaa..
Aku hanya ingin masa mudaku itu indah, indah dengan berbagai hal. bukan cuma satu hal saja. Masa muda dengan kisah penuh inspiratif. alhamdulillah semua berjalan baik - baik saja walaupun aku terlihat tidak punya teman. masa sekolahku tidak seperti anak - anak pada umumnya yang begitu gembira, masa dimana semuanya begitu indah walaupun sementara. dimasa itu aku sudah sadar bahwa beberapa dari itu tidak benar. Yaa... ada pacar, ada senang2, ada jalan2 dan bla dan bla.
Aku benar - benar sendiri. hal yang tidak kuinginkan, sendiri. sebenarnya aku bukan benar - benar tidak punya teman, ada cuma ya itu mereka datang ketika butuh dan pergi begitu saja saat sudah mendapatkan apa yang mereka butuhkan. akhirnya apapun yang mereka butuhkan atau perlukan dariku benar - benar aku usahakan walaupun sulit. rasanya susah sekali mengatakan tidak. senang rasanya seperti saudara saja mereka ku anggap. dan ku pikir mereka begitu terhadapku. oke, oke,,, nostalgia rasanya,,, mengingat masa-masa yang tidak enak. dan ternyata itu banyak sekali hikmahnya,,
Hinaan bahkan makian sudah sering kudapat dimasa-masa sekolahku,, membuatku berfikir bahwa ternyata sekolah disekolah favorit itu begini. sekolah dengan hampir 80% orang-orang kaya dan terkenal didaerahku. hahaha tentu saja itu orang tuanya bukan anaknya, tapi tetap saja berpengaruh. berulang kali aku berfikir mencari alasan sebenarnya mengapa bisa seperti itu. ada salah satu kawan yang mengatakan aku itu miskin, jelek, bau, jorok, bahkan bodoh dan bla dan bla. aahh... mungkin itu. tapi satu alasan yang aku pikirkan ketika hal serupa terjadi ketika aku sudah hijrah. bahwa ternyata Allah sedang mempersiapkanku sesuai lingkungan dan keadaan, jadi inilah proses yang indah itu. Allah mau aku siap disegala kondisi dan lingkungan yang ada. Dilingkungan yang mungkin dikatakan orang awam "kejam".. wiii,,, serem.
Ternyata mencari teman yang benar-benar seperti saudara susah sekali saat itu. Teman sama-sama belajar jadi orang baik, sama - sama melakukan amalan yang baik. Tapi kutemukan itu setelah aku lulus sekolah dan melanjutkan kedunia kampus. aku bertemu dengan seorang perempuan yang usianya cukup jauh diatasku. bisa dikatakan kami sama-sama saling bertemu teman baru karena beliau orang baru didaerahku. Ikut suami kedaerah yang masih cukup asing dengan jilbab besar. sedikit mundur dari kisah pertemuan kami. sebelumnya aku bertemu dengan gadis seusiaku. dia juga berasal dari luar daerah atau bisa dikatakan dari kota besar.
Stop Poya - poya...... ayo jadi ahli manfaat......
Tampilkan postingan dengan label Salam dari ا sampai ﻱ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Salam dari ا sampai ﻱ. Tampilkan semua postingan
Minggu, 14 Desember 2014
Jumat, 12 Desember 2014
keluarga Besar
Keluarga besar
"Bagaimana rasanya menjadi orang asing di dalam lingkungan sendiri? bagaimana rasanya menjadi orang yang berbeda?"
Namaku Aisyah Nur Asma .Usiaku baru menginjak 23 tahun. Keluargaku alhamdulillah masih lengkap, orang tuaku masih ada, aku punya 11 orang saudara dan aku anak ke 8. Masing - masing dari kami awalnya hidup begitu damai, tidak ada perselisihan. 7 orang saudaraku sudah menikah tinggal aku dan 4 adikku yang masih harus belajar. mengingat usia, tidak ada di keluargaku perempuan yang menikah diusia diatas 20. baik itu kakak ku ataupun sepupuku. Bukannya aku tidak laku atau tidak ada yang mau, aku saja yang terlalu memilih rasanya. Bukan cuma cinta yang diperlukan untuk berumah tangga, tapi akhlak dan tanggung jawab juga perlu.
bercerita tentang keluargaku bisa panjang jadinya. mengingat keluargaku keluarga besar. perpaduan antara Bugis dan jawa, tapi kami anak - anaknya begitu lekat dengan daerah kelahiran kami. Bulungan, yang sukunya ada 3 yakni Bulungon, tidung, dan dayak. kalau dayak kita tidak begitu dekat, karena keluargaku tdk begitu faham bahasanya. Bahasa kami itu lebih ke Melayu. yaaa,, bahasa sehari - hari kami sangat dekat dengan melayu. Karena memang Indonesia masih satu rumpun dengan malaysia. Apa lagi Kalimantan Utara itu dekat sekali dengan Malaysia. sampai sampai banyak teman yang mengatakan "Asma, aku suka caramu bicara. aku merasa asyik gitu. mendayu - dayu.. seru." Yaa.. begitu lah. Jadi biar tulisan ini bisa dipahami semua orang aku pakai bahasa yang baik saja.
Aku punya banyak keponakan, ada 17 orang dan hanya 1 laki - laki. rame kalau sudah ngumpul semua. rumah penuh betul. Aku bayangkan bagaimana nanti jika ditambah dengan anak - anakku. Pasti lebih ramai. Saat ini aku bekerja di sebuah Lembaga Pelatihan Komputer, Aku seorang instruktur komputer disana. karena aku seorang D3 komputer, apa salahnya menjadi instruktur. Saudara - saudaraku juga ada yang buka usaha, jadi tidak semuanya bekerja.
Itu adalah sedikit cerita soal keluarga, belum lagi problem yang terjadi didalamnya. Jika itu juga dibahas tentu akan menyita banyak waktu dan tentu saja belum saatnya. Yang pasti aku mencintai mereka, hingga segala sikap dan keputusanku hanya memikirkan bagaimana dengan mereka. Berkorban sedikit perasaan yaa tak masalah laa,, walaupun ada sedikit kekecewaan didalamnya tapi apa salahnya karena mereka tetap keluarga. Aku berusaha ingin merubah segala kebiasaan yang sudah mengakar, kebiasaan buruk yang masih dianggap lumrah bahkan wajar bagi mereka.
Dan ketika hijrah, keluargaku begitu kaget dengan perubahan yang terjadi. heran dan bahkan melarang itulah yang terjadi... seakan Allah ingin menguji seberapa erat aku memegang tali agamanya, seberapa kuat hijrahku. Sampai - sampai hanya untuk belajar Al-quran saja tidak diperbolehkan. melihat aku bersama - sama dengan teman - teman yang sudah lebih dahulu hijrah, itu merupakan pemandangan yang tidak diinginkan keluargaku. Dan jadilah aku asing dikeluargaku... ternyata untuk menjadi orang bener dan baik itu banyak tantangannya...Karena isi dari setiap kepala itu beda-beda, tergantung pemahamannya...
Dan ketika hijrah, keluargaku begitu kaget dengan perubahan yang terjadi. heran dan bahkan melarang itulah yang terjadi... seakan Allah ingin menguji seberapa erat aku memegang tali agamanya, seberapa kuat hijrahku. Sampai - sampai hanya untuk belajar Al-quran saja tidak diperbolehkan. melihat aku bersama - sama dengan teman - teman yang sudah lebih dahulu hijrah, itu merupakan pemandangan yang tidak diinginkan keluargaku. Dan jadilah aku asing dikeluargaku... ternyata untuk menjadi orang bener dan baik itu banyak tantangannya...Karena isi dari setiap kepala itu beda-beda, tergantung pemahamannya...
Langganan:
Postingan (Atom)